Rabu 15 Juli 2026 - 05:46
Kehadiran Rakyat Iran di Medan Perjuangan adalah Salah Satu Manifestasi Pertolongan Ilahi

Hawzah/ Ayatullah Jawadi Amuli menegaskan: Tidak ada yang menyangka bahwa selama berbulan-bulan, para wanita dan pria ini akan hadir di medan-medan perjuangan seperti ini dan menjadi penyeru revolusi dan Islam, meskipun pemimpin kita yang tercinta telah melakukan perbuatan besar dan kemudian mencapai kesyahidan, namun arus perjuangan di medan dan kehadiran rakyat ini pun tidak boleh diremehkan.

Berita Hawzah  Yang Mulia Ayatullah Jawadi Amuli pada hari Selasa, 14 Juli 2026, dalam pertemuan dengan sekelompok produsen dan para dermawan, seraya mengapresiasi upaya-upaya kebajikan dan produksi para hadirin, menyatakan bahwa kemenangan dan keberhasilan Revolusi Islam berkat iman rakyat, kepemimpinan Ilahi, dan perjuangan ikhlas.

Beliau menuturkan: "Terkadang Allah menolong agama-Nya melalui pertolongan gaib, dan terkadang melalui kehadiran rakyat. Tidak ada yang menyangka bahwa selama berbulan-bulan, para wanita dan pria ini akan hadir di medan-medan perjuangan seperti ini dan menjadi penyeru revolusi dan Islam, meskipun pemimpin kita yang tercinta telah melakukan perbuatan besar dan kemudian mencapai kesyahidan, namun arus perjuangan di medan dan kehadiran rakyat ini pun tidak boleh diremehkan."

Israel dan Amerika menjadi terhina di hadapan Iran

Ayatullah Jawadi Amuli, seraya menunjuk pada perkembangan beberapa dekade terakhir, menggarisbawahi: "Dahulu di Iran bahkan tidak mungkin mengadakan majelis doa untuk kemenangan umat Islam melawan rezim Zionis Israel, tetapi hari ini berkat berkah Revolusi Islam Iran, keteguhan rakyat, perjuangan para syuhada, dan ketergantungan pada kekuatan Ilahi, maka Israel dan Amerika menjadi terhina di hadapan Iran."

Dengan tekad yang luhur dan semangat jihad, berkhidmatlah kepada masyarakat

Beliau, seraya mengenang kembali kenangan-kenangan dari tahun-tahun awal Revolusi dan terbentuknya lembaga peradilan Republik Islam, menekankan pentingnya pelayanan tanpa pamrih dan menjauhi kecintaan terhadap dunia. Beliau berkata: "Banyak tanggung jawab berat sistem pemerintahan pada awal Revolusi dilaksanakan dengan sarana yang sangat minim dan tanpa mengharapkan imbalan materi. Di lembaga peradilan ini sendiri, terdapat orang-orang besar yang dengan keikhlasan dan semangat jihad, serta tanpa pamrih sedikit pun, memikul tanggung jawab besar ini dan mengabdi kepada masyarakat. Maka sekarang pun, kita dapat melayani rakyat dengan semangat yang sama."

Dalam 8 tahun Perang Suci (Perang Iran-Irak), kita menang berkat keberanian rakyat

Yang Mulia Ayatullah Jawadi Amuli, seraya merujuk pada tahun-tahun Perang Pertahanan Suci, menyatakan bahwa keperkasaan para pejuang Islam adalah modal utama kejayaan negara. Beliau menuturkan: "Keamanan dan martabat negara kita saat ini adalah berkat pengorbanan orang-orang yang dalam kondisi paling sulit, mempertaruhkan nyawa mereka untuk menjaga Islam, Iran, dan kehormatan negeri ini. Kami memiliki orang-orang terkasih yang di musim dingin yang dingin di Kurdistan, bertahan di pos-pos mereka dengan kegigihan sedemikian rupa hingga mereka membeku kedinginan dan gugur sebagai syuhada! Ketika jenazah mereka dibawa ke Masjid Agung Qom —kami biasanya pada acara takziah membaca Al-Qur'an dan Surah Al-Fatihah, dan tidak ada kesempatan untuk duduk hingga akhir— namun malam itu saya duduk hingga akhir acara dan menangis, bukan karena pahala, tetapi menangis karena malu! Maka hendaklah kita sadar bahwa dalam perang delapan tahun kami tidak memiliki sarana dan prasarana, dan kami menang hanya dengan keberanian Ilahi yang dimiliki oleh rakyat."

Beliau dalam bagian lain dari pembicaraannya menekankan pentingnya memiliki tekad yang luhur dan rasa tanggung jawab terhadap agama dan masyarakat, serta menyatakan: "Janganlah sekali-kali mengeluh, tetapi hendaklah kita memiliki semangat tinggi. Kita dapat menjadi wakil dan khalifah Allah di muka bumi, dan senantiasa memohon kepada Allah: 'Ya Tuhan, Engkau yang memelihara agama-Mu, mengapa tidak melalui tanganku?' —sebagaimana doa: 'Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang Engkau jadikan sebagai penolong bagi agama-Mu... dan janganlah Engkau ganti aku dengan orang lain.' Seorang mukmin hendaknya meminta kepada Allah agar dijadikan sebagai sarana pertolongan bagi agama-Nya, dan selalu bercita-cita untuk menjadi wakil kehendak Ilahi dalam melayani hamba-hamba Allah, bukan agar tanggung jawab ini diserahkan kepada orang lain."

Pentingnya membudayakan etos kerja, produksi, dan pelayanan

Yang Mulia Ayatullah Jawadi Amuli, seraya menekankan pentingnya membudayakan etos kerja, produksi, dan pelayanan, menyebutkan bahwa kemiskinan merupakan salah satu bahaya sosial terbesar. Beliau berkata: "Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) as berkata: 'Tidak ada cambuk yang lebih menyakitkan daripada kemiskinan.' Semua pihak memiliki kewajiban, di samping menyebarkan nilai-nilai agama, untuk berupaya mengurangi kemiskinan, mendukung mereka yang membutuhkan, serta memperkuat produksi dan lapangan kerja, agar tidak ada satu keluarga pun yang pulang ke rumah dengan tangan hampa dan rasa malu."

Marja' taklid ini, seraya mendoakan para hadirin, memohon kepada Allah Yang Maha Tinggi agar memberikan kebaikan, kemaslahatan, dan keberuntungan bagi seluruh pelayan masyarakat Islam, serta menganugerahkan kepada mereka pemahaman yang mendalam, kemampuan dan kesanggupan, serta kecerdasan yang melimpah.

Janganlah lelah dalam melayani rakyat

Di akhir, Yang Mulia Ayatullah Jawadi Amuli menegaskan: "Jangan biarkan ucapan-ucapan masyarakat mengeluarkan kalian dari medan pelayanan, dan jangan pernah lelah. Tetaplah menjadikan Allah sebagai tujuan utama kalian; berbicaralah kepada-Nya dan bekerjalah karena ridha-Nya."

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha